Khutbah Pertama
Ø¥Ùنَّ الْØÙŽÙ…ْدَ Ù†ÙŽØÙ’مَدÙه٠وَنَسْتَعÙيْنÙه٠وَنَسْتَغْÙÙØ±Ùه٠وَنَعÙÙˆÙ’Ø°Ù Ø¨ÙØ§Ù„له٠مÙنْ Ø´ÙØ±Ùوْر٠أَنْÙÙØ³Ùنَا ÙˆÙŽÙ…Ùنْ Ø³ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¦ÙŽØ§ØªÙ أَعْمَالÙنَا، مَنْ يَهْدÙه٠الله٠Ùَلاَ Ù…ÙØ¶Ùلَّ لَه٠وَمَنْ ÙŠÙØ¶Ù’Ù„Ùلْ Ùَلاَ هَادÙÙŠÙŽ Ù„ÙŽÙ‡ÙØŒ أَشْهَد٠أَنْ لاَ Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥Ùلاَّ الله٠وَØÙ’دَه٠لاَ شَرÙيْكَ لَه٠وَأَشْهَد٠أَنَّ Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù‹Ø§ عَبْدÙه٠وَرَسÙوْلÙÙ‡Ù.
يَٰٓأَيّÙهَا ٱلَّذÙينَ ءَامَنÙواْ ٱتَّقÙواْ ٱللَّهَ ØÙŽÙ‚Ù‘ÙŽ تÙقَاتÙÙ‡ÙÛ¦ وَلَا تَمÙوتÙنَّ Ø¥Ùلَّا وَأَنتÙÙ… Ù…Ù‘ÙØ³Û¡Ù„ÙÙ…Ùونَ Ù¡Ù Ù¢
يَٰٓأَيّÙهَا ٱلنَّاس٠ٱتَّقÙواْ رَبَّكÙم٠ٱلَّذÙÙŠ خَلَقَكÙÙ… مّÙÙ† نَّÙۡسٖ ÙˆÙŽÙ°ØÙدَةٖ وَخَلَقَ Ù…Ùنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ Ù…ÙÙ†Û¡Ù‡Ùمَا Ø±ÙØ¬ÙŽØ§Ù„ٗا ÙƒÙŽØ«Ùيرٗا ÙˆÙŽÙ†ÙØ³ÙŽØ§Ù“ءٗۚ وَٱتَّقÙواْ ٱللَّهَ ٱلَّذÙÙŠ تَسَآءَلÙونَ بÙÙ‡ÙÛ¦ وَٱلۡأَرۡØÙŽØ§Ù…ÙŽÛš Ø¥Ùنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكÙÙ…Û¡ رَقÙيبٗا Ù¡
يَٰٓأَيّÙهَا ٱلَّذÙينَ ءَامَنÙواْ ٱتَّقÙواْ ٱللَّهَ ÙˆÙŽÙ‚ÙولÙواْ قَوۡلٗا سَدÙيدٗا Ù§Ù ÙŠÙØµÛ¡Ù„ÙØÛ¡ Ù„ÙŽÙƒÙÙ…Û¡ أَعۡمَٰلَكÙÙ…Û¡ وَيَغۡÙÙØ±Û¡ Ù„ÙŽÙƒÙÙ…Û¡ ذÙÙ†ÙوبَكÙÙ…Û¡Û— ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ† ÙŠÙØ·Ùع٠ٱللَّهَ وَرَسÙولَهÙÛ¥ Ùَقَدۡ Ùَازَ Ùَوۡزًا عَظÙيمًا Ù§Ù¡
أَمَّا بَعْدÙ: ÙÙŽØ¥Ùنَّ أَصْدَقَ الْØÙŽØ¯Ùيْث٠كَ مَال٠الله٠وَخَيْرَ Ø§Ù„Ù’Ù‡ÙŽØ¯Ù’ÙŠÙ Ù‡ÙŽØ¯Ù’ÙŠÙ Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù ÙˆÙŽØ´ÙŽØ±Ù‘ÙŽ اْلأÙÙ…ÙÙˆÙ’Ø±Ù Ù…ÙØÙ’Ø¯ÙŽØ«ÙŽØ§ØªÙهَا، ÙÙŽØ¥Ùنَّ ÙƒÙلَّ Ù…ÙØÙ’Ø¯ÙŽØ«ÙŽØ©Ù Ø¨ÙØ¯Ù’عَةٌ ÙˆÙŽÙƒÙلَّ Ø¨ÙØ¯Ù’عَة٠ضَلاَلَةٌ ÙˆÙŽÙƒÙلَّ ضَلاَلَة٠ÙÙÙŠ النَّارÙ
Jamaah jumat rahimakumullah,
Perkenankanlah kami pada kesempatan khutbah kali ini menyampaikan informasi seputar bahayanya paham komunisme terhadap NKRI.
Akhir-akhir ini, ada pihak-pihak yang berusaha memunculkan kembali paham yang berbahaya ini di bumi persada. Mereka berupaya dengan memasang poster para tokohnya, menggunakan atribut dan lambang palu arit. Bahkan, ada yang membanggakan dirinya sebagai anak PKI lantas menulis buku untuk menggambarkan kebanggaannya tersebut. Wal ‘iyadzu billah.
Jamaah jumat rahimakumullah!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
لاَ ÙŠÙÙ„Ù’Ø¯ÙŽØºÙ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙØ¤Ù’Ù…ÙÙ†Ù Ù…Ùنْ Ø¬ÙØÙ’Ø±Ù ÙˆÙŽØ§ØÙد٠مَرَّتَيْنÙ
“Tidak sepantasnya seorang mukmin tersengat sampai dua kali dari lubang yang sama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)
Kita kaum muslimin yang berwarga negara Indonesia sudah merasa jera dan trauma dengan yang namanya gerakan dan paham komunisme. Sejarah kelam dan tragedi berdarah yang dimotori oleh gerakan komunis jangan sampai terulang lagi di negeri kita tercinta ini.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama, paham komunisme dicetuskan oleh orang-orang ateis yang antiagama dan tidak percaya dengan adanya Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,
Ø£ÙŽÙ…Û¡ Ø®ÙÙ„ÙÙ‚Ùواْ Ù…ÙÙ†Û¡ غَيۡر٠شَيۡء٠أَمۡ Ù‡Ùم٠ٱلۡخَٰلÙÙ‚Ùونَ ٣٥
“Apakah mereka tercipta tanpa asal usul ataukah mereka menciptakan diri mereka sendiri?” (ath-Thur: 35)
Saudara-saudaraku kaum muslimin… semoga kita dirahmati oleh Allah
Kita telah ridha dengan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb kita, Islam sebagai agama kita, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi kita. Maka dari itu, kita tidak akan rela paham komunisme ada di tengah-tengah kita.
Agama Islam memiliki konsep:
لاَ ضَرَرَ وَلَا Ø¶ÙØ±ÙŽØ§Ø±ÙŽ
Artinya, menolak madarat terhadap dirinya dan menolak madarat terhadap pihak lain, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sungguh, paham komunisme sangatlah bermadarat bagi individu, masyarakat, agama, dan bangsa.
Hadirin rahimakumullah,
Mari kita dukung bangsa kita dalam menolak paham komunisme. Agama dan negara kita menolak terorisme, dan komunisme tidak lepas dari praktik terorisme.
Agama dan negara kita menolak tindakan anarkisme (tindakan kekejaman), dan komunisme tidak bisa lepas dari praktik anarkisme.
Semoga taufik Allah senantiasa tercurahkan kepada kita dan para pemimpin negara ini untuk berjalan di atas jalan yang lurus.
بَارَكَ الله٠لÙÙŠ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ ÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù‚ÙØ±Ù’آن٠الْعَظÙÙŠÙ…ÙØŒ ÙˆÙŽÙ†ÙŽÙَعَنÙÙŠ ÙˆÙŽØ¥ÙيَّاكÙمْ بÙمَا ÙÙيه٠مÙÙ†ÙŽ الْآياَت٠وَالذÙّكْر٠الْØÙŽÙƒÙÙŠÙ…ÙØŒ Ø£ÙŽÙ‚Ùول٠مَا تَسْمَعÙونَ وَأَسْتَغْÙÙØ±Ù الله٠لÙÙŠ ÙˆÙŽÙ„ÙŽÙƒÙمْ Ù…Ùنْ ÙƒÙÙ„ÙÙ‘ Ø°ÙŽÙ†Ù’Ø¨ÙØŒ Ø¥Ùنَّه٠هÙÙˆÙŽ الْغَÙÙور٠الرَّØÙيمÙ
Khutbah Kedua
الْØÙŽÙ…ْد٠وَالصَّلاَة٠وَالسَّلاَم٠عَلَى أَشْرَÙ٠ا لْأَنْبÙÙŠÙŽØ§Ø¡Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’Ù…ÙØ±Ù’سَلÙينَ وَعَلَى آلÙه٠وَصَØÙ’بÙه٠أَجْمَعÙينَ، أَمَّا بَعْدÙ
Hadirin rahimakumullah,
Memang benar bahwa agama Islam selalu mengajak untuk bersikap adil. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman,
Ø¥Ùنَّ ٱللَّهَ ÙŠÙŽØ£Û¡Ù…ÙØ±Ù بÙٱلۡعَدۡلÙ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan agar bersikap adil….” (an-Nahl: 90)
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,
ٱعۡدÙÙ„Ùواْ Ù‡ÙÙˆÙŽ أَقۡرَب٠لÙلتَّقۡوَىٰۖ
“Bersikap adillah, karena sikap adil lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)
Pada ayat yang lain,
ÙˆÙŽØ£ÙŽÙ‚Û¡Ø³ÙØ·Ùوٓاْۖ Ø¥Ùنَّ ٱللَّهَ ÙŠÙØÙØ¨Ù‘٠ٱلۡمÙÙ‚Û¡Ø³ÙØ·Ùينَ Ù©
“Dan berbuat adillah, karena sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.” (al-Hujurat: 9)
Sekian banyak ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi yang mengajari kita untuk menjadi orang yang adil.
Akan tetapi, bukan seperti keadilan yang disuarakan oleh orang-orang yang bepemahaman komunis, yang seakan-akan ingin memperjuangkan para petani, pekerja, dan kaum buruh. Padahal apa yang mereka lakukan jauh dari keadilan dan tidak pula membela hak rakyat. Mereka justru merampas hak rakyat.
Sebagai contoh, konsep keadilandalam paham komunisme adalah alat-alat produksi, tanah, modal, dan tenaga kerja menjadi milik bersama, diatur oleh negara; tidak ada kepemilikan individu. Sudah barang tentu, konsep ini bertentangan dengan akal sehat, fitrah, dan syariat Islam
Syariat Islam mengakui adanya kepemilikan manusia secara individu. Akan tetapi, Islam mengatur agar manusia menggunakan hartanya dalam hal-hal bermanfaat dan tidak menimbulkan madarat. Selain itu, Islam mewajibkan umatnya untuk mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya sebagai zakat yang disalurkan kepada para fakir miskin.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
ÙˆÙŽÙ…ÙŽÙ† يَبۡتَغ٠غَيۡرَ Ù±Ù„Û¡Ø¥ÙØ³Û¡Ù„َٰم٠دÙينٗا ÙÙŽÙ„ÙŽÙ† ÙŠÙقۡبَلَ Ù…ÙÙ†Û¡Ù‡Ù ÙˆÙŽÙ‡ÙÙˆÙŽ ÙÙÙŠ Ù±Ù„Û¡Ø£Ù“Ø®ÙØ±ÙŽØ©Ù Ù…ÙÙ†ÙŽ Ù±Ù„Û¡Ø®ÙŽÙ°Ø³ÙØ±Ùينَ ٨٥
“Dan barang siapa memilih selain Islam sebagai agamanya, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat kelak dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)
لاَ ØÙŽÙˆÙ’Ù„ÙŽ وَلَا Ù‚Ùوَّةَ Ø¥Ùلاَّ باÙÙ„Ù„Ù‡ÙØŒ رَبَّنَا لَا ØªÙØ²Ùغْ Ù‚ÙÙ„Ùوبَنَا بَعْدَ Ø¥ÙØ°Ù’ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا Ù…Ùنْ لَدÙنْكَ رَØÙ’مَةً، Ø¥Ùنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابÙ
رَبَّنَا آتÙنَا ÙÙÙŠ الدّÙنْيَا ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ø¢Ø®ÙØ±ÙŽØ©Ù ØÙŽØ³ÙŽÙ†ÙŽØ©Ù‹ ÙˆÙŽÙ‚Ùنَا عَذَابَ النَّارÙ
وَصَلَّى الله٠عَلَى نَبÙيّÙنَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù ÙˆÙŽØ¹ÙŽÙ„ÙŽÙ‰ آلÙه٠وَصَØÙ’بÙه٠أَجْمَعÙينَ وَسَلَّمَ تَسْلÙيمًا، وَالْØÙŽÙ…ْد٠رَبّ٠الْعَالَمÙينَ
Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar